Skip to main content

Korban Nafsu Berahi Manajemen Itu Bernama Coutinho



Sebenarnya tidak ada gunanya mengungkit-ungkit lagi dan lagi pemain yang sudah sangat mustahil lagi berhubungan dengan Inter. Tetapi untuk para pemain yang malang melintang di luar sana, semua batin para Interisti sejatinya terluka tanpa jelas penyebabnya. Inter sejatinya merupakan klub paling terkenal dalam memandang remeh pemainnya sendiri yang sebenarnya memiliki potensi bagus untuk kelangsungan masa depan mereka. Sejumlah nama mulai direlakan karena karirnya yang telah berakhir, kini salah satu dari mereka yang dikucilkan kala berseragam Biru Hitam lagi-lagi membuat gempar. Philippe Coutinho dimahar seharga 160 Juta Euro yang mendapuknya sebagai pemain termahal kedua di sepak bola modern kini.

Sejenak pasti kita termangu dengan angka yang begitu meledak dari penjualan Cou, harga yang sangat jauh dengan ketika Liverpool hanya merogoh kocek sekitar 10 Juta Euro dan itupun terlalu mudah 5 tahun yang lalu. Liverpool dalam kasus ini jelas sekali mengalami keutungan absolut, sedangkan bagi Inter terpuruk di penyesalan paling hitam. Memang betul, mereka tidak merugi karena hanya memerlukan uang 4 Juta saat membawanya dari Vasco da Gama di 2008, tetapi melihat lesakan harga dan popularitas Cou saat ini hal yang wajar bagi Inter mengakui kesalahan yang mereka ciptakan.

Mari kita mengingat apa yang terjadi pada Coutinho saat bersama Inter. Cou sebenarnya telah dibeli Inter sejak 2008, namun baru pada 2010 ia tiba di Appiano Gentile. Ia diserahkan bermain secara profesional di klub yang membesarkannya tersebut. Setiba di Milano, Cou disambut dengan baik-baik oleh seluruh pihak di sana. Bahkan Moratti dan Benitez tidak malu-malu melabelinya wonderkid yang akan menjadi pemain masa depan Inter. Di bawah kepelatihan Benitez, Cou langsung mendapat mata karena kemampuan bermainnya yang meminimalisir kesalahan. Ia bermain simple dan membuahkan 13 laga selama semusim, cukup baik bagi seorang perantau 19 tahun.

Di tangan Benitez yang ramah tamah, Cou ikut andil dalam menggondol gelar Coppa dan Super Coppa. Sayangya pergantian tangan membuat Cou dilempar ke Spanyol, ia dipinjamkan ke Espanyol selama 6 bulan di musim keduanya. Menampilkan dirinya secara impresif membuat Inter kepincut ingin segera memberikan Coutinho peran sungguhan di tim. Jika kemarin, di awal kedatangannya ia masih terlalu hijau, dan lagi-lagi harus tunduk terhadap para gelandang senior yang telah membuktikan kemampuannya. Kini Cou seharusnya telah benar-benar wajib diorbitkan.

Menuanya Dejan, situasi riuh Wesley yang bakal keluar, membuat kans Cou besar untuk merebut tongkat estafet mereka. Stramaccioni yang kala itu promosi sebagai kepala tim utama rupanya tidak sepenuhnya melihat potensi besar Cou. Ia hanya memberikan 10 pertandingan sebelum akhirnya mau tak mau dipaksa setuju terhadap keputusan manajemen menjualnya di musim dingin 2013. Cou dikorbankan dengan alasan yang kurang bisa diterima, disebut untuk menghadapi FFP, tetapi nyatanya Sneijder pada akhirnya sama-sama dipasarkan. Namun dengan cepat siasat ini terbongkar, penjualan Coutinho hanyalah bentuk korban dari nafsu berahi Inter yang kepincut terhadap gelandang Kroasia, Mateo Kovacic.

Ya, uang hasil melego Cou diberika kepada Dinamo Zagreb untuk menebus Kovacic. Hal yang menunjukan kalau Inter lebih melihat Kovacic secara potensi ketimbang Cou yang merupakan pemainnya sendiri. Pada awalnya dugaan mereka terbayar, Kova bermain ciamik, dan para fanspun mulai melupakan tingkah manajemen yang mengekstradisi Cou ke Inggris. Kovacic lamban laun menjelma sebagai idola baru, begitupun Cou yang mulai mendapatkan fansnya kembali dalam warna yang berbeda. Namun, Inter dengan birokrasinya kembali melakukan hal yang konyol. Kovacic yang telah mulai mendarahdaging di urat fans, dipilih sebagai pengorbanan lagi-lagi untuk memenuhi nafsu mereka. Kova dijual ke Madrid untuk membiayai transfer mewah Geoffrey Kondogbia.

Namun kali ini tembakan Inter teramat sangat ceroboh, Kondogbia tidak secantik Kovacic yang dapat membayar lebih penampilan Coutinho. Kondogbia bahkan kini dipinjamkan karena dianggap gagal di Inter. Bahkan jika ada tim yang ingin membelinya, Inter bakal dengan sukarela memberi diskon. Maka sampai sini sangat jelas betapa omong kosongnya pengorbanan yang dilakukan Inter dengan penjualan Coutinho.

Comments

Popular posts from this blog

Inter Harus Membayar Untuk Miliki De Vrij

Sejatinya Serie A tidak cuma diisi bek-bek sekadar Koulibaly, Chielini, apalagi Bonucci. Di sana terdapat beragam pemain belakang yang memiliki citra yang bahkan lebih tinggi apabila lebih banyak dikenalkan. Stefan De Vrij merupakan salah satu nama bek tengah yang memiliki kapabilitas hebat di italia. De Vrij telah memiliki nama di PD 2014 lalu dimana ia mendapat banyak peminat bahkan dari tim-tim kelas dunia, namun singkat cerita Lazio lah yang lebih cepat mengambil langkah. Kini, rupanya idealisme De Vrij mulai patah seiring perjuangan berat di Lazio yang tidak jelas dalam perburuan gelar. Dalam 3 musim terakhirnya, Lazio tidak lebih baik dari sekadar finis di 5 besar. Prestasi paling baiknya bahkan hanya sebagai runner-up Coppa. Melihat situasi ini dan juga kondisi Lazio yang bukan merupakan klub ambisius penghunus gelar, De Vrij telah mantap melihat keluar. Kontrak berakhir akhir musim, namun tawaran perpanjangan ditolak dengan alasan terlalu kecil. Indikasi yang jelas menyi...