Write by; Zulkarnain Daud
Italia tetap sebuah negara yang mengedapankan sepak bola, lebih dari apapun, meski negeri ini terkenal dengan sejarah rohani dan politiknya yang kuat. Sepak bola adalah jiwa negara ini, bahkan dalam kondisi keuangan yang kritis pun sepak bolanya tetap maju bahkan mampu berprestasi di level Eropa, sebagai contoh saat berkiprah di kompetisi antar negara Eropa 3 tahun lalu. Italia mampu melaju hingga babak terakhir sebelum Spanyol meruntuhkan harapan orang Italia. Padahal ketika itu Italia sedang dilanda krisis ekonomi yang cukup serius. Tetapi yang menjadi penting adalah bagaimana sebuah permainan sepak bola mampu mengorganisasi sebuah negara, tidak melulu politik yang berperan.
Orang Italia menyukai sepak bola, bahkan tidak hanya satu yang berani mati untuk sebuah kemenangan tim idola, mereka adalah yang gila yang ingin dikubur sambil mendekap bola dalam pemakamannya. Tetapi sebagai pencipta, Italia tidak akan bisa mengklaim permainan ini sebagai penemuannya, Inggris tetap yang pertama meski prestasi kalah telak oleh Italia.
Satu dekade lalu Italia yang menguasai Eropa, Serie A benar-benar menjadi favorit seluruh dunia. Maradona, Ronaldo, Zidane. Mereka adalah kelas dunia yang menjadi penari di Italia, sedangkan Inggris mencoba mengambil sedikit demi sedikit kekuatan Italia. Mulai dari memigrasikan para maestro yang di usia senja, dan kemudian mengambil alih profesi direksi-direksi di Italia yang gemar mencari bakat muda. Dan akhirnya berhasil, Inggris menggeser pamor Serie A satu dekade lamanya. Tetapi seiring jalannya waktu, jarum membalik tujunya ke selatan. Italia bangkit dari keterpurukan.
Inter Milan adalah tim terakhir yang membawa bendera Italia berkibar di Eropa serta dunia. Setelahnya, Italia tak lagi diperhitungkan selama setengah dekade sebelum Juventus membawa aroma kebangkitan. Moratti tahu bahwa ketika tujuannya selesai yaitu membawa tim meraih segala gelar, tak ada lagi yang perlu ia lakukan. Tak ada lagi belanja mewah untuk menarik orang kepada Serie A, karena apa yang dilakukannya untuk 2010 bukanlah uangnya pribadi, itu adalah utang yang harus dibayar, sama seperti Juve dan Milan.
Dimulai Roma yang membawa orang asing di tubuh klub, kemudian Inter, dan teranyar Milan yang akhirnya mau menerima orang asing di tubuhnya, seorang Asia. Roma dengan Dollarnya perlahan merakit kekuatan untuk mencapai sejarah. Sedangkan Milan langsung berjudi dengan Thai bath untuk kembali ke habitatnya. Sementara Inter, Rupiah mulai populer di Eropa setelah pembelanjaan besar dan efektif dilakukan.
Peta pun berubah, Juventus tak lagi mudah memenangkan gelar. Musim lalu memang Juve bermain di final Champions, tetapi itu tidak mengartikan mereka akan kembali menjadi yang terbaik, justru Serie A yang kembali bangkit menjadi kompetitif.
Melihat aktifitas transfer untuk berjalan di musim 2015-2016 sepertinya Juve memiliki sedikit peluang mempertahankan scudeto. Benar saja, Serie A pun berjalan, dan hingga pekan ke-3 sang juara bertahan hanya mampu meraih satu angka. Adalah laga ketiga mereka menghadapi klub yang sebenarnya bukan tandingan mereka, Chievo. Yang membuat geli adalah gol penyama kedudukan Juve tercipta melalu penalti di menit akhir, ditambah itu adalah penalti kontroversial. Ini jelas tidak seharusnya dipertontonkan tim sekelas Juventus yang memiliki pemain berlabel bintang, mereka terlunta-lunta bukan karena tim sekelas Inter ataupun Milan.
Padahal pemain anyar yang mereka datangkan tidaklah main-main; Paulo Dybala misalnya, Barca dan MU bekerja keras untuk merekrut pemain yang diprediksi menjadi regenerasi Messi di masa depan, namun kontribusinya tidak terlihat di tim yang lebih besar kini. Atau Sami Khadira, diprediksi akan melakoni debutnya di Italia setelah dua bulan Serie A berjalan karena cedera. Sedangkan Madzukic, harusnya ia menjadi striker yang selalu mencetak gol mengingat siapa pemain dibelakangnya.
Juventus sadar bahwa ketika mereka kembali ke takhta kekuasaan, ancaman yang datang bukanlah dari rivalnya Inter atau Milan, klub Milan tersebut diketahui telah habis dan memiliki sedikit kekuatan. Justru tim seperti Roma dan Napoli lah yang memiliki piala sedikit di lemarinya yang mampu mengusik si Nyonya tua. Dan musim ini bahkan gelar juara berada di genggaman Roma dengan syarat Juventus terus terpuruk.
Mengapa Roma pantas? Roma adalah satu-satunya tim yang berani menentang kedigdayaan Juve setelah Inter dan Milan lengser. Meski tidak berhasil dan sering berada di puncak ke-2, musim ini peluang Serigala Roma lebih besar dari musim-musim sebelumnya. Faktor pertama yang mempengaruhi itu adalah Juve tidak lagi di tangan Conte. Memang keberadaan Allegri jauh lebih baik bagi Juve atas pencapaiannya yang nyaris menyamai prestasi Inter meraih treble winner sebelum takluk di Berlin oleh Barcelona. Tetapi keberhasilannya itu dapat dikatakan murni berkat Antonio Conte yang telah membentuk Juve jauh lebih baik dan kedatangan Allegri hanya tinggal meraciknya sedikit. Aleggri bukan seorang pelatih yang pandai memilih seorang pemain, ini adalah celah yang bisa dimanfaatkan Roma musim ini.
Start buruk Juve musim ini adalah hasil betapa tidak mampunya Allegri meramu skuadnya. Allegri melakukan dosa lama yang sama dilakukannya di Milan, ketika usai memenangkan scudeto di sana ia tidak mampu mempertahankan pemain-pemain yang ada, menjual Ibra dan Silva, bahkan menganggap Pirlo sudah habis. Hal yang sama dilakukannya di Juve, ia kembali bertemu Pirlo dan kembali pula menganggapnya pemain yang perlu disingkirkan, bahkan tidak mampu meyakinkan Tevez dan Vidal untuk bertahan. Semua orang tahu bahwa tiga pemain itu adalah pemain penting di balik kesuksesan Juve. Pirlo mungkin tua, tetapi auranya sebagai seorang juara tetap beraroma dan Conte percaya akan itu. Pirlo mampu membawa perbedaan dalam tim, salah besar jika Allegri menganggap sukses Juve di lini tengah adalah berkat Pogba, Pirlo sebagai prantagonis dan Vidal adalah antagonis di rezim Conte. Tetapi musim lalu Pirlo hanya di bangku cadangan bersama Tevez. Mengorbankan Tevez untuk seorang Madzukic.
Roma pantas karena seorang Rudi Garcia, ia adalah pelatih hebat yang memiliki gairah juara. Secara filosofi gayanya mirip Diego Simeone, tetapi di Italia ia harus menerapkan strategi menyerang karena pertahanan tim Italia bagai tembok Jerusalem. Ia diberkati oleh pemain potensial, mulai dari membangun skuad dengan Miralem Pjanic dan Strootman, kemudian mendatangkan Nainggolan, dan kini sang presiden pede scudeto dengan pemain seperti Salah dan Dzeko. Terlihat betapa seriusnya Roma untuk mencapai ambisi.
Sedangkan di sisi lain, bukan Roma yang pantas menghentikan laju Juve di Serie A. Inter lebih siap dengan persiapan yang lebih mepet. Secara Mancini adalah pelatih terbaik diantara pelatih tim-tim lainnya di Italia kini, setelah Benitez hengkang tingggal dirinya yang paling memiliki pengalaman cara untuk juara. Inter mengawali musim dengan baik, artinya pembelian besar yang dilakukan berjalan dengan efektif. Dan rasanya terlalu naif kini bila klub menargetkan hanya tiga besar mengingat siapa klub ini.
Awal yang bagus dilakukan Inter menunjukan kekuasaan Serie A telah kembali ke tangan Inter, 3 laga tanpa kekalahan dan memuncaki klasemen adalah bukti perubahan yang dilakukan Inter adalah untuk kembali sebagai juara. Inter melakukan pembelanjaan besar untuk Mancini karena klub percaya bahwa bersamanya Inter mampu bangkit dari keterpurukan. Hal yang tidak dilakukan untuk Stramacioni dan Mazzari dimana klub tidak terlalu percaya untuk belanja pemain secara lapang karena Moratti berpikir Inter telah habis dan hanya akan bersaing di luar 3 besar. Kondogbia, Melo, Jovetic, serta Perisic adalah bentuk kepercayaan Inter terhadap Mancini. Ditambah para direksi bekerja keras dalam menambal bolong musim lalu, seperti mendatangkan Murillo dan Miranda yang merupakan posisi terburuk Inter musim lalu di tangan Rano-Juan, bersama mereka kini Inter menunjukan kapasitasnya.
Sejauh ini pembelian Inter 90% mengalami efektifitas yang baik, setiap pemain mampu bekerja maksimal di posisinya. Dengan begitu penjualan Shaqiri dan Kovacic adalah bukan sebuah penyesalan mengingat apa yang terjadi saat ini.
Inter pantas sebagai penjegal Juve karena beberapa faktor, pelatih yang seorang juara, finansial yang mulai stabil, serta adanya kualitas yang pantas untuk diperhitungkan. Memang sejak awal Inter hanya menaruh target untuk mengembalikan Inter ke Eropa, tapi sekali lagi bahwa klub ini harus sadar siapa dirinya. Klub ini jauh lebih siap disamping juventus dan diatas dari Roma.
Mengapa Inter? Bagaimana dengan Milan dan Napoli? Inter kini memiliki kualitas diatas mereka ketimbang musim lalu. Mari kita berbanding dengan Milan, mereka memiliki investor anyar dan dispekulasikan akan membawa Milan kembali ke masa kejayaan. Tapi itu rasanya hanya omong kosong belaka, terlihat dari gestur mereka sendiri, mereka memilih untuk bekerja sama dengan Mihajlovic, apa iya tindakan seperti ini menunjukan gerik kembangkitan mengingat siapa dia. Miha boleh saja seorang pelatih berkharisma, tapi pengalamannya melatih masih terlalu dini apalagi menahkodai tim besar yang menaruh target kembali ke habitat aslinya. Bukan meremehkan, tapi kalau memang mereka serius dengan target itu mereka akan agresif dalam perburuan pelatih hebat macam Ancelotti, Ranieri, Conte, dan yang lebih mudah Prandelli.
Kemudian aktifitas mereka di pasar, Milan terlihat tidak terlalu lepas dalam mendatangkan pemain, terlihat ada rasa pesimistis terhadap pelatihnya sendiri. Mereka mendatangkan Bacca sebagai seorang juara, tetapi bagaimana dengan Kondogbia yang mereka tinggalkan hanya karena harga tidak terjangkau, kemudian Soriano, dan yang sebenarnya mampu membawa mereka kembali adalah pemain sekaliber Axel, tapi mereka hanya mendatangkan Kucka, lalu?
Kemudian Napoli, mereka sangat berjudi dengan Sarri yang musim lalu adalah pelatih Empoli. Semua Italia tahu bagaimana sifat Laurentiis, terlihat bagaimana dia tidak optimis untuk bersaing sebagai juara dan hanya mengedepankan 3 besar atau 5 besar. Dan aktifitas transfer merekapun nyaris tidak terbaca publik.
Secara bursa judi, Napoli dan Milan tidak masuk dalam persaingan juara, mereka hanya akan bertarung untuk Eropa dengan tim lainnya seperti Lazio dan Fiorentina. Untuk Milan, mereka mencoba mencari jati dirinya musim ini bersama Mihajlovic, dan bukan tidak mungkin musim depan akan ada kejutan dari mereka. Sementara Napoli, kita tahu mereka di Italia, dan sepertinya kini mereka akan mencoba kembali ke rezim Mazzari yang mengedepankan piala kedua Italia yakni Copa yang merupakan paling realistis dengan kapasitas Maurizio Sarri.
Italia tetap sebuah negara yang mengedapankan sepak bola, lebih dari apapun, meski negeri ini terkenal dengan sejarah rohani dan politiknya yang kuat. Sepak bola adalah jiwa negara ini, bahkan dalam kondisi keuangan yang kritis pun sepak bolanya tetap maju bahkan mampu berprestasi di level Eropa, sebagai contoh saat berkiprah di kompetisi antar negara Eropa 3 tahun lalu. Italia mampu melaju hingga babak terakhir sebelum Spanyol meruntuhkan harapan orang Italia. Padahal ketika itu Italia sedang dilanda krisis ekonomi yang cukup serius. Tetapi yang menjadi penting adalah bagaimana sebuah permainan sepak bola mampu mengorganisasi sebuah negara, tidak melulu politik yang berperan.
Orang Italia menyukai sepak bola, bahkan tidak hanya satu yang berani mati untuk sebuah kemenangan tim idola, mereka adalah yang gila yang ingin dikubur sambil mendekap bola dalam pemakamannya. Tetapi sebagai pencipta, Italia tidak akan bisa mengklaim permainan ini sebagai penemuannya, Inggris tetap yang pertama meski prestasi kalah telak oleh Italia.
Satu dekade lalu Italia yang menguasai Eropa, Serie A benar-benar menjadi favorit seluruh dunia. Maradona, Ronaldo, Zidane. Mereka adalah kelas dunia yang menjadi penari di Italia, sedangkan Inggris mencoba mengambil sedikit demi sedikit kekuatan Italia. Mulai dari memigrasikan para maestro yang di usia senja, dan kemudian mengambil alih profesi direksi-direksi di Italia yang gemar mencari bakat muda. Dan akhirnya berhasil, Inggris menggeser pamor Serie A satu dekade lamanya. Tetapi seiring jalannya waktu, jarum membalik tujunya ke selatan. Italia bangkit dari keterpurukan.
Inter Milan adalah tim terakhir yang membawa bendera Italia berkibar di Eropa serta dunia. Setelahnya, Italia tak lagi diperhitungkan selama setengah dekade sebelum Juventus membawa aroma kebangkitan. Moratti tahu bahwa ketika tujuannya selesai yaitu membawa tim meraih segala gelar, tak ada lagi yang perlu ia lakukan. Tak ada lagi belanja mewah untuk menarik orang kepada Serie A, karena apa yang dilakukannya untuk 2010 bukanlah uangnya pribadi, itu adalah utang yang harus dibayar, sama seperti Juve dan Milan.
Dimulai Roma yang membawa orang asing di tubuh klub, kemudian Inter, dan teranyar Milan yang akhirnya mau menerima orang asing di tubuhnya, seorang Asia. Roma dengan Dollarnya perlahan merakit kekuatan untuk mencapai sejarah. Sedangkan Milan langsung berjudi dengan Thai bath untuk kembali ke habitatnya. Sementara Inter, Rupiah mulai populer di Eropa setelah pembelanjaan besar dan efektif dilakukan.
Peta pun berubah, Juventus tak lagi mudah memenangkan gelar. Musim lalu memang Juve bermain di final Champions, tetapi itu tidak mengartikan mereka akan kembali menjadi yang terbaik, justru Serie A yang kembali bangkit menjadi kompetitif.
Melihat aktifitas transfer untuk berjalan di musim 2015-2016 sepertinya Juve memiliki sedikit peluang mempertahankan scudeto. Benar saja, Serie A pun berjalan, dan hingga pekan ke-3 sang juara bertahan hanya mampu meraih satu angka. Adalah laga ketiga mereka menghadapi klub yang sebenarnya bukan tandingan mereka, Chievo. Yang membuat geli adalah gol penyama kedudukan Juve tercipta melalu penalti di menit akhir, ditambah itu adalah penalti kontroversial. Ini jelas tidak seharusnya dipertontonkan tim sekelas Juventus yang memiliki pemain berlabel bintang, mereka terlunta-lunta bukan karena tim sekelas Inter ataupun Milan.
Padahal pemain anyar yang mereka datangkan tidaklah main-main; Paulo Dybala misalnya, Barca dan MU bekerja keras untuk merekrut pemain yang diprediksi menjadi regenerasi Messi di masa depan, namun kontribusinya tidak terlihat di tim yang lebih besar kini. Atau Sami Khadira, diprediksi akan melakoni debutnya di Italia setelah dua bulan Serie A berjalan karena cedera. Sedangkan Madzukic, harusnya ia menjadi striker yang selalu mencetak gol mengingat siapa pemain dibelakangnya.
Juventus sadar bahwa ketika mereka kembali ke takhta kekuasaan, ancaman yang datang bukanlah dari rivalnya Inter atau Milan, klub Milan tersebut diketahui telah habis dan memiliki sedikit kekuatan. Justru tim seperti Roma dan Napoli lah yang memiliki piala sedikit di lemarinya yang mampu mengusik si Nyonya tua. Dan musim ini bahkan gelar juara berada di genggaman Roma dengan syarat Juventus terus terpuruk.
Mengapa Roma pantas? Roma adalah satu-satunya tim yang berani menentang kedigdayaan Juve setelah Inter dan Milan lengser. Meski tidak berhasil dan sering berada di puncak ke-2, musim ini peluang Serigala Roma lebih besar dari musim-musim sebelumnya. Faktor pertama yang mempengaruhi itu adalah Juve tidak lagi di tangan Conte. Memang keberadaan Allegri jauh lebih baik bagi Juve atas pencapaiannya yang nyaris menyamai prestasi Inter meraih treble winner sebelum takluk di Berlin oleh Barcelona. Tetapi keberhasilannya itu dapat dikatakan murni berkat Antonio Conte yang telah membentuk Juve jauh lebih baik dan kedatangan Allegri hanya tinggal meraciknya sedikit. Aleggri bukan seorang pelatih yang pandai memilih seorang pemain, ini adalah celah yang bisa dimanfaatkan Roma musim ini.
Start buruk Juve musim ini adalah hasil betapa tidak mampunya Allegri meramu skuadnya. Allegri melakukan dosa lama yang sama dilakukannya di Milan, ketika usai memenangkan scudeto di sana ia tidak mampu mempertahankan pemain-pemain yang ada, menjual Ibra dan Silva, bahkan menganggap Pirlo sudah habis. Hal yang sama dilakukannya di Juve, ia kembali bertemu Pirlo dan kembali pula menganggapnya pemain yang perlu disingkirkan, bahkan tidak mampu meyakinkan Tevez dan Vidal untuk bertahan. Semua orang tahu bahwa tiga pemain itu adalah pemain penting di balik kesuksesan Juve. Pirlo mungkin tua, tetapi auranya sebagai seorang juara tetap beraroma dan Conte percaya akan itu. Pirlo mampu membawa perbedaan dalam tim, salah besar jika Allegri menganggap sukses Juve di lini tengah adalah berkat Pogba, Pirlo sebagai prantagonis dan Vidal adalah antagonis di rezim Conte. Tetapi musim lalu Pirlo hanya di bangku cadangan bersama Tevez. Mengorbankan Tevez untuk seorang Madzukic.
Roma pantas karena seorang Rudi Garcia, ia adalah pelatih hebat yang memiliki gairah juara. Secara filosofi gayanya mirip Diego Simeone, tetapi di Italia ia harus menerapkan strategi menyerang karena pertahanan tim Italia bagai tembok Jerusalem. Ia diberkati oleh pemain potensial, mulai dari membangun skuad dengan Miralem Pjanic dan Strootman, kemudian mendatangkan Nainggolan, dan kini sang presiden pede scudeto dengan pemain seperti Salah dan Dzeko. Terlihat betapa seriusnya Roma untuk mencapai ambisi.
Sedangkan di sisi lain, bukan Roma yang pantas menghentikan laju Juve di Serie A. Inter lebih siap dengan persiapan yang lebih mepet. Secara Mancini adalah pelatih terbaik diantara pelatih tim-tim lainnya di Italia kini, setelah Benitez hengkang tingggal dirinya yang paling memiliki pengalaman cara untuk juara. Inter mengawali musim dengan baik, artinya pembelian besar yang dilakukan berjalan dengan efektif. Dan rasanya terlalu naif kini bila klub menargetkan hanya tiga besar mengingat siapa klub ini.
Awal yang bagus dilakukan Inter menunjukan kekuasaan Serie A telah kembali ke tangan Inter, 3 laga tanpa kekalahan dan memuncaki klasemen adalah bukti perubahan yang dilakukan Inter adalah untuk kembali sebagai juara. Inter melakukan pembelanjaan besar untuk Mancini karena klub percaya bahwa bersamanya Inter mampu bangkit dari keterpurukan. Hal yang tidak dilakukan untuk Stramacioni dan Mazzari dimana klub tidak terlalu percaya untuk belanja pemain secara lapang karena Moratti berpikir Inter telah habis dan hanya akan bersaing di luar 3 besar. Kondogbia, Melo, Jovetic, serta Perisic adalah bentuk kepercayaan Inter terhadap Mancini. Ditambah para direksi bekerja keras dalam menambal bolong musim lalu, seperti mendatangkan Murillo dan Miranda yang merupakan posisi terburuk Inter musim lalu di tangan Rano-Juan, bersama mereka kini Inter menunjukan kapasitasnya.
Sejauh ini pembelian Inter 90% mengalami efektifitas yang baik, setiap pemain mampu bekerja maksimal di posisinya. Dengan begitu penjualan Shaqiri dan Kovacic adalah bukan sebuah penyesalan mengingat apa yang terjadi saat ini.
Inter pantas sebagai penjegal Juve karena beberapa faktor, pelatih yang seorang juara, finansial yang mulai stabil, serta adanya kualitas yang pantas untuk diperhitungkan. Memang sejak awal Inter hanya menaruh target untuk mengembalikan Inter ke Eropa, tapi sekali lagi bahwa klub ini harus sadar siapa dirinya. Klub ini jauh lebih siap disamping juventus dan diatas dari Roma.
Mengapa Inter? Bagaimana dengan Milan dan Napoli? Inter kini memiliki kualitas diatas mereka ketimbang musim lalu. Mari kita berbanding dengan Milan, mereka memiliki investor anyar dan dispekulasikan akan membawa Milan kembali ke masa kejayaan. Tapi itu rasanya hanya omong kosong belaka, terlihat dari gestur mereka sendiri, mereka memilih untuk bekerja sama dengan Mihajlovic, apa iya tindakan seperti ini menunjukan gerik kembangkitan mengingat siapa dia. Miha boleh saja seorang pelatih berkharisma, tapi pengalamannya melatih masih terlalu dini apalagi menahkodai tim besar yang menaruh target kembali ke habitat aslinya. Bukan meremehkan, tapi kalau memang mereka serius dengan target itu mereka akan agresif dalam perburuan pelatih hebat macam Ancelotti, Ranieri, Conte, dan yang lebih mudah Prandelli.
Kemudian aktifitas mereka di pasar, Milan terlihat tidak terlalu lepas dalam mendatangkan pemain, terlihat ada rasa pesimistis terhadap pelatihnya sendiri. Mereka mendatangkan Bacca sebagai seorang juara, tetapi bagaimana dengan Kondogbia yang mereka tinggalkan hanya karena harga tidak terjangkau, kemudian Soriano, dan yang sebenarnya mampu membawa mereka kembali adalah pemain sekaliber Axel, tapi mereka hanya mendatangkan Kucka, lalu?
Kemudian Napoli, mereka sangat berjudi dengan Sarri yang musim lalu adalah pelatih Empoli. Semua Italia tahu bagaimana sifat Laurentiis, terlihat bagaimana dia tidak optimis untuk bersaing sebagai juara dan hanya mengedepankan 3 besar atau 5 besar. Dan aktifitas transfer merekapun nyaris tidak terbaca publik.
Secara bursa judi, Napoli dan Milan tidak masuk dalam persaingan juara, mereka hanya akan bertarung untuk Eropa dengan tim lainnya seperti Lazio dan Fiorentina. Untuk Milan, mereka mencoba mencari jati dirinya musim ini bersama Mihajlovic, dan bukan tidak mungkin musim depan akan ada kejutan dari mereka. Sementara Napoli, kita tahu mereka di Italia, dan sepertinya kini mereka akan mencoba kembali ke rezim Mazzari yang mengedepankan piala kedua Italia yakni Copa yang merupakan paling realistis dengan kapasitas Maurizio Sarri.
Comments